Tgl 25 Juli 2007
Pukul: 08:40 AM, Too Early In The Mourning….
“Jam 05:15 AM, lagi asik sarapan, nungguin isteri yang sedang dandan, mau berangkat kantor….yet another routine-regular day of my life……”

Pagi tadi, sekitar pukul 05:15, disiarkan berita dari program Reportase Pagi Trans Teve, sebuah mobil Honda Jazz berwarna biru, yang dikendarai oleh seorang siswi SMU, mendarat dengan empuk menghantam atap rumah warga di Bogor, setelah terjun bebas dari jalan di atasnya. Kecelakaan diduga terjadi karena pengemudi tidak mampu mengendalikan laju kendaraannya yang meluncur deras di tikungan di daerah tersebut. Untungnya, pengemudi, yang kalau bleguk bedul ini tidak salah mendengar, bernama Anggia??
Awal menonton berita tersebut, orang keren bedul ini agak-agak kurang menyimak, wajar, masih jam 5 pagi, nyawa belum terkumpul di kepala, dan belum mandi pagi. Kemudian, setelah kurang lebih terkesiap kurang lebih 1 menit, bedul ini sadar, ya mobil yang terjun itu adalah HONDA JAZZ…. Sebuah kendaraan yang sama persis dengan mobil yang terjun dari lantai enam gedung parkir Pertokoan ITC Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada hari kamis 17 Mei 2007, silam.
Mulailah bermunculan sejumlah pertanyaan aneh di kepala bedul yang beruban ini, kenapa ya koq sudah dua kali terjadi peristiwa yang serupa, mobil Honda Jazz meluncur tidak terkendali dan mengakibatkan kecelakaan?
Apa pasal, yang membuat kecelakaan serupa ini terjadi pada mobil yang sama? dengan motif kejadian yang serupa pula?
Terkaan awal yang dapat dipelajari adalah mungkin berawal dari tipikal mobil Honda Jazz itu sendiri. Bila dilihat dari data dimensi Honda Jazz, seperti tercantum:

Dengan data dimensi tersebut, dapat dipahami Honda Jazz adalah sebuah mobil mungil yang sangat pantas digunakan sebagai mobil perkotaan (city car). Tipikal mobil mungil tersebut wajar pula bila diminati oleh sejumlah pengemudi dengan jam terbang kemudi yang masih rendah, dan memiliki kemampuan mengemudi yang tentu rendah pula, atau masih taraf belajar setir mobil, seperti halnya siswi SMU dan almarhumah Ibu Trisna Priyatna, yang mengemudikan Honda Jazz nahas tersebut.
Seperti dituliskan oleh wikipedia;
Driving in traffic is more than just knowing how to operate the mechanisms which control the vehicle; it requires knowing how to apply the rules of the road (which govern safe and efficient sharing with other users). An effective driver also has an intuitive understanding of the basics of vehicle handling
Mengemudikan mobil, memerlukan tidak hanya kemampuan menjalankan dan memberhentikan kendaraan, tetapi juga memiliki keterampilan dan kedewasaan berfikir dalam mengendalikan kendaraan. Demikian kira-kira terjemahan bebasnya. Nah, kedewasaan dalam mengendalikan kendaraan pada umumnya berbanding lurus dengan lama jam kemudi dan usia sang pengemudi. Karena, intuisi pengemudi untuk tetap tenang dalam menghadapi segala situasi dalam berkendara melibatkan perilaku dan moralitas yang baik, kemampuan berkonsentrasi, dan kemampuan mawas diri serta toleransi dengan pengemudi lain di jalan raya.
Terus, apa solusinya untuk mencegah hal serupa, jelas, kembali Pak Polisi kalau menerbitkan Surat Izin Mengemudi harus tidak bisa tidak menerapkan benar kelulusan ujian mengemudikan kendaraan. Normal saja terjadi pengemudi yang baru memiliki SIM terkena musibah di jalan raya, lha wong, ujian SIM bisa ditembak koq. Bahkan, bisa saja bawa mobil tanpa SIM, kan kalau ditilang bisa “sidang di tempat”, bayar 50 ribu – 100 ribu, beres deh ga jadi ditilang.
Berapa kali pula si Bedul ini memergoki calon pengemudi sedang belajar setir mobil di jalan raya, yang jelas penuh dengan lalu lalang mobil dan kendaraan lain dengan cepat. Perlu disadari bahwa belajar mengemudikan kendaraan di jalan umum dapat membahayakan pengguna jalan yang lain dan juga si calon pengemudi itu sendiri. Bisa saja calon pengemudi itu menyeruduk kendaraan lain karena telat menghentikan kendaraannya, atau bisa juga si calon pengemudi malah diseruduk kendaraan lain yang kaget oleh gaya mengemudi si calon yang ndat-ndut. Mbok ya eling, belajar nyetir di jalan raya tidak selamanya bisa cepat jadi pintar mengemudikan kendaraan. Apalagi kalau belajar setir mobil dengan mobil sendiri di jalan raya, sudahlah tidak ada instruktur, mobil yang digunakan pun tidak dilengkapi dengan pedal rem dan kopling ganda, yang bisa jadi pengaman oleh instrukturnya.
Ayo Pak Polisi, gimana nih sertifikasi pengemudinya? Apa iya harus ditunggu ada Honda Jazz nyemplung atau terjun lagi?
Terus, untuk dealer Honda, harusnya dilengkapi pula data pembeli Honda Jazz, apakah digunakan oleh orang yang baru pertama kali setir mobil atau sudah berpengalaman. Kalau dibeli oleh orang yang baru pertama setir mobil, ada baiknya disarankan untuk benar-benar menguasai Honda Jazz yang dibelinya, baru terjun ke kali eh di jalan raya. Yah walau agak nyeleneh dan susah, tapi ngga mau kan Honda Jazz dibilang sebagai mobil maut? yang cocok diajak terjun dan nyemplung-nyemplungan? Hayo??
Mungkin lain kali, bedul ini akan coba analisa kemungkinan penambahan polis asuransi pada pengguna Honda Jazz dengan premi terjun dari lantai 6 atau premi mendarat di atap rumah, jadi kalau ada Honda Jazz lagi yang terjun dari lantai 6 atau mendarat di atap rumah orang, kerugian yang ditimbulkan dapat diminimalisir dengan asuransi.
He…He…He…
~
~
~


![[ kami juga butuh informasi ] [ kami juga butuh informasi ]](http://farm3.static.flickr.com/2063/2148455390_d6cce13e78_t.jpg)











2 tanggapan so far ↓
aldani // Maret 3, 2008 pada 3:22 pm
yah maklum toh pak…mungkin sang pengendara mempunyai keinginan terpendam untuk menjadi STUNT MAN..hehe.btw lo sarapan atawa sahur tuh jam 5.15..hehe
urang-bandung // Desember 11, 2009 pada 10:11 am
BEtul sekali analisisnya pak, di jalanan beberapa kota besar bisa kita temui sering sekali merk yang bapak sebut tersebu pola mengemudinya belum matang belul, tidak menyadari posisi mobil di jalan raya dan tidak sadar akan kecepatannya sehingga acap kali menghalangi pengguna jalan lainnya.
Benar sekali kalau mobil jenis ini ditujukan bagi/dan disukai oleh entry level consumer alias mereka yang baru bisa mengemudi, namun yang jelas bukan melulu kesalahan polisi ataupun produsen mobil :]